JOMBANG, Nawasnews.com — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, bukan hanya tentang ruang sidang, perdebatan gagasan, dan keputusan organisasi.
Di luar forum resmi, ada perjumpaan-perjumpaan kecil yang justru memperlihatkan wajah lain dari sebuah perhelatan besar: orang-orang yang datang, duduk bersama, berbincang, lalu saling menyapa dalam suasana yang lebih cair.
Di tengah suasana itu, Eko Wahyudi menyempatkan diri menyusuri sejumlah titik di sekitar arena Muktamar.
Di sela kunjungan lapangan untuk memantau kondisi posko Partai Golkar, Eko berkunjung ke posko PCNU Tuban. Sebagai Wakil Bendahara PCNU Tuban, ia berdialog dengan jajaran pengurus serta kader yang berada di lokasi.
Kunjungan itu tidak berhenti pada percakapan.
Eko juga memberikan dukungan logistik bagi kader dan pengurus NU Tuban yang hadir di posko selama rangkaian Muktamar berlangsung.
Bagi Eko, keberadaan mereka di Tambakberas bukan sekadar perjalanan menuju sebuah forum organisasi. Ada semangat khidmat, silaturahmi, dan penghormatan terhadap para kiai, alim ulama, pengurus, serta jamaah NU yang menjadi bagian dari perhelatan tersebut.
Percakapan di posko berlangsung tanpa banyak sekat.
Muktamar menjadi bahan pembicaraan. Begitu pula organisasi, umat, dan berbagai persoalan kebangsaan.
Ruang yang sederhana itu seakan mengingatkan bahwa organisasi pada akhirnya bukan hanya tentang struktur dan jabatan. Ia juga tentang manusia yang bertemu dengan manusia lain, saling mendengar, dan menjaga penghormatan ketika pilihan tidak selalu sama.
Eko, yang juga Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Golkar dari Daerah Pemilihan Tuban-Bojonegoro, kemudian melanjutkan rangkaian kunjungannya di sekitar arena Muktamar.
Ia turut mendampingi Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Dr. H. Ali Mufthi, S.Ag., M.Si., dalam kunjungan ke posko Ikepete, wadah alumni Pondok Pesantren Tebuireng.
Ali Mufthi merupakan alumni Pondok Pesantren Tebuireng. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana silaturahmi di tengah padatnya aktivitas Muktamar.
Dalam kesempatan itu turut hadir Fatkul Iksan, S.H., M.H., mantan Ketua KPU Kabupaten Tuban periode 2019–2024.
Kehadiran Fatkul ditempatkan sebagai bagian Pengurus LBH PCNU dan di tugaskan menjaga posko untuk menerima tamu dari tuban. Sekitar 7 hari dilokasi posko PCNU Tuban.
Dari suasana perjumpaan dan silaturahmi di sekitar arena Muktamar. Tidak ada keterangan yang mengaitkan kehadirannya dengan tugas kelembagan maupun agenda resmi lembaga tersebut.
Muktamar dan Perjumpaan yang Tidak Selesai di Ruang Sidang
Bagi Eko, ada sesuatu yang lebih panjang dari sekadar agenda Muktamar.
Yakni hubungan antarmanusia yang tetap harus dirawat setelah forum selesai.
Organisasi, menurut dia, tidak hanya dibangun melalui keputusan yang tersusun dalam dokumen. Ia juga tumbuh dari silaturahmi, kepercayaan, komunikasi, dan kesediaan untuk tetap saling menghormati ketika perbedaan hadir.
Sebab perbedaan adalah bagian dari perjalanan organisasi.
Yang harus dijaga adalah agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.
“Muktamar boleh selesai. Kepemimpinan boleh berganti. Namun, khidmat harus terus berjalan,” ujar Eko.
Kalimat itu menjadi semacam penanda dari perjalanan Eko di arena Muktamar.
Ia melihat Muktamar bukan hanya sebagai peristiwa yang memiliki pembukaan dan penutupan. Ada pekerjaan yang jauh lebih panjang setelah para peserta meninggalkan arena.
Ada masyarakat yang menunggu manfaat dari organisasi.
Ada umat yang membutuhkan kehadiran.
Dan ada persaudaraan yang harus tetap dijaga ketika sorak-sorai Muktamar perlahan mereda.
Ketika Riuh Menjadi Sunyi
Pada akhirnya, setiap Muktamar akan menemukan ujungnya.
Posko-posko akan dibongkar. Spanduk akan diturunkan. Para jamaah akan kembali ke daerah masing-masing. Jalan-jalan di sekitar Tambakberas yang sempat dipenuhi arus manusia akan kembali kepada ritmenya.
Namun, tidak semua hal ikut pulang.
Ada gagasan yang dibawa ke daerah.
Ada pengalaman yang tinggal dalam ingatan.
Dan ada semangat khidmat yang semestinya diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah yang ingin dirawat Eko Wahyudi.
Bukan sekadar ingatan tentang siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan itu kemudian diterjemahkan menjadi pengabdian.
Bukan hanya tentang hasil musyawarah, tetapi bagaimana keputusan tersebut menghadirkan kemaslahatan.
Dan bukan semata tentang perbedaan pilihan, melainkan tentang kemampuan untuk tetap berjalan dalam satu rumah persaudaraan.
“Dari Tambakberas, kita belajar bahwa perbedaan adalah warna, musyawarah adalah jalan, dan persaudaraan adalah rumah bersama,” ujar Eko.
Barangkali di situlah makna sebuah Muktamar menemukan bentuknya yang paling sederhana.
Bahwa jabatan memiliki masa.
Bahwa forum memiliki batas.
Bahwa keputusan memiliki titik akhir.
Tetapi khidmat tidak semestinya mengenal kata selesai.
Ketika riuh Muktamar akhirnya menjadi sunyi, pekerjaan itu justru kembali ke tempat asalnya: di tengah masyarakat.
Di sanalah gagasan diuji.
Di sanalah amanah ditimbang.
Dan di sanalah sebuah perjumpaan, sekecil apa pun, dapat menemukan maknanya sebagai bagian dari perjalanan panjang pengabdian.
(Puji)






