TUBAN, Nawasnews.com – Persoalan yang sempat mencuat di lingkungan SDN Simo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, kini mulai diarahkan menuju penyelesaian melalui jalur musyawarah. Para pihak membuka ruang dialog untuk mencari kesepakatan terbaik dengan tetap menempatkan kepentingan dan masa depan anak sebagai perhatian utama.
Proses penyelesaian dilakukan melalui mediasi yang melibatkan keluarga siswa, pihak sekolah, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta Pemerintah Desa Simo. Komunikasi antarpihak juga difasilitasi untuk membuka ruang saling memahami dan mencari solusi yang dapat diterima bersama.
Sebelumnya, persoalan tersebut bermula dari dugaan pemberian hukuman terhadap tiga siswa kelas IV yang disebut lupa membawa songkok ke sekolah. Setelah kejadian itu, salah satu siswa disebut tidak kembali mengikuti kegiatan belajar karena merasa takut, minder, dan malu.
Pihak sekolah bersama guru yang disebut berkaitan dengan persoalan tersebut kemudian beberapa kali mendatangi kediaman siswa. Dalam proses komunikasi antara keluarga dan pihak sekolah, juga muncul surat pernyataan dari pihak keluarga.
Rangkaian komunikasi tersebut kini menjadi bagian dari proses penyelesaian yang masih perlu dilihat secara utuh berdasarkan keterangan dari seluruh pihak.
Musyawarah Jadi Pilihan Penyelesaian
Dalam proses mediasi, masing-masing pihak diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan maupun kondisi yang dirasakan. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama sekaligus menemukan titik temu.
Kepala Desa Simo, M. Syukur, mengatakan penyelesaian melalui musyawarah diharapkan dapat menjaga hubungan antara keluarga siswa dan pihak sekolah tetap baik.
“Yang paling penting bagaimana persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik. Jangan sampai anak semakin terbebani. Kalau semua pihak bisa duduk bersama dan saling memahami, insyaallah ada jalan keluar yang terbaik,” ujar M. Syukur, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, proses mediasi bukan bertujuan menentukan siapa yang menang maupun kalah. Hal terpenting, kata dia, adalah tercapainya kesepakatan yang dapat diterima oleh seluruh pihak.
“Intinya kita mencari mufakat. Kepentingan anak harus menjadi perhatian bersama agar anak bisa kembali nyaman dan melanjutkan sekolahnya,” katanya.
Pemdes Simo Siapkan Perhatian Sosial
Selain proses mediasi, Pemerintah Desa Simo juga disebut berencana memberikan perhatian terhadap kondisi rumah orang tua siswa.
Pemdes Simo berencana membantu perbaikan rumah melalui anggaran Perubahan APBDes (P-APBDes) tahun ini. Rencana tersebut disebut sebagai bentuk kepedulian sosial pemerintah desa terhadap kondisi warganya.
Anak Menjadi Titik Temu
Terbukanya ruang mediasi diharapkan dapat membawa persoalan tersebut menuju penyelesaian yang lebih baik. Kesediaan para pihak untuk berdialog menjadi bagian penting dalam mencari jalan keluar tanpa memperpanjang persoalan.
Kepentingan anak menjadi titik temu yang diharapkan dapat menyatukan seluruh pihak. Anak diharapkan kembali merasa aman, percaya diri, serta dapat mengikuti proses pendidikan dengan nyaman.
Penyelesaian persoalan tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang mengakhiri sebuah permasalahan, tetapi juga bagaimana hubungan antara keluarga dan sekolah dapat kembali terjalin dengan baik.
Dengan demikian, proses pendidikan anak tetap berjalan dan kepentingan terbaik bagi anak menjadi prioritas bersama.
(Oleh: M. Mursyid)





